Sabtu, 05 Desember 2015

Keluh Kesah Anak Kantoran Season II

sebenernya banyak yang mau ditulis, bukan keluh kesah sih, cuma pengen cerita aja soal kantor, biar nyambung sama cerita yg kemaren aja pake judul samaan.
Alhamdulillah ada banyak yang bisa saya bahas dari kantor saya.

Pertama,masalah sosialisasi. Beberapa waktu yang lalu, kepala suku dari bagian lain manggil saya, beliau minta kesanggupan saya (kalau ada waktu) nelponin customer (berikutnya disebut WP aja ya) sekitar 20 WP Badan. Karena saya tadinya merasa ringan, saya menyanggupi gawean ini. Planning awal tugas dibagi 3, saya 20, sekretaris 20, dan pelaksana penagihan 20.

Dua hari kemudian, saya mendapat list dari anak smk yang magang di seksi yang punya gawean (sebut saja eksten). Listnya FULL 54 WP Badan ditambah 21 WP Badan yang kembalipos (kempos). Awalnya saya terima-terima saja karena di frontline saya pun banyakkk gawean (tidak seperti yang saya perkirakan 2 hari sebelumnya). Setelah selesai melayani satu WP, saya baca lah list yang tadi. Saya shock! Katanya 20, kok jadi banyak?! Dari list itu, saya lihat beberapa ada yang kosong, oh mungkin aku harus telpon yang belum ada nomornya ini. Baru sekitar 10 WP, saya lelah karena kebanyakan di sistem tidak tercantum nomor telepon atau nomor telepon tidak dapat dihubungi. Akhirnya saya adukan ke yang punya gawe, seksi eksten. Well, jawaban yang saya dapat cukup mengejutkan, sekretarisnya sedang dinas, daaan pelaksana seksi penagihan lagi sakit. Padahal baru aja paginya saya lihat beliau baik baik saja. Mungkin sakit mendadak, pikir saya. Positive thinking aja lah kalo sudah begini. Kesel sih, menurutmu?!

Saya sudah desperate, mau meninggalkan pekerjaan ini, tapi nggak tega. Desperatenya karena dari awal mentalnya disiapkan utk nelpon 20 WP saja (perjanjian 17 WP). Akhirnya dengan penuh kesabaran dan tanggungjawab , saya nelponin semuanya. I dont expect too much from what i've done. Setelah nelpon, ada beberapa yang masih belum bisa kasih konfirmasi hadir atau tidak. Ternyata setelah jam makan siang, satu per satu telepon bersahutan, untuk saya. Dan yang konfirmasi ada sekitar 20 WP, mungkin lebih. Sumpah, ekspektasi saya mungkin yang hadir/konfirm hanya 10an. Di situ saya merasa bersyukur dan bahagia :D

Lalu saya mau konfirmasi ke kepala seksi eksten, ternyata beliau berangkat ke jakarta menyusul anak buahnya. Pantesan...
Saya hanya bisa berdecak lalu pergi. Saya kayaknya kok gak tau apaapa ya di sini, pikir saya lagi.

Tibalah hari penyelenggaraan sosialisasi. Saya mendapat notifikasi dari sosmed, ada foto dan saya di-tag, dengan tulisan yang kira kira isinya nggak nyangka yang datang banyak. Saya, sebagai yang bersusah payah, otomatis nyeletuk, "Siapa dulu yang nelponin?". Andaikan mereka yang cuma bisa ngomong komentar dan tanya2 itu tau effortnya. Yang hadir fyi ada 45 orang, dari 54 WP yang coba dihubungi. Saya seneng effort saya terbalas lah.


Dan setelah itu semua, tiada kata terucap, baik dari pemilik gawean, maupun dari saudara saudara sekalian yang punya tanggungjawab atas acara ini. Dan saya pun berpikir, bukannya minta sesuatu, tapi maksud saya ya cukup tau aja lah gitu. Nggak minta pamrih juga, cuma tolong hargai usaha sekecil apapun. Tapi ah sudahlah.. saya pikir itu seharusnya kesadaran pribadi sih.


Selanjutnya mengenai rencana wisata ke suatu pulau, yang katanya pantainya indah, di tengah lautan. Imagine, untuk ke sana saja naik kapal nelayan (tolong digarisbawahi) butuh waktu 8 jam. Nurani saya sudah menolak, tapi dengan antusias temen temen dan harga 800ribu, saya iyakan ajakan teman saya ini. 2 minggu kemudian, waktunya diundur dan harga pun melonjak naik kisaran 1 juta. Wuidih, udah kayak apartemen aja nih, tiap senin harga naik 100 ribu ciyn. Eike mulai sepakat sama hati nurani untuk berkata tidak. Dan dibahas terus di grup, dan setiap dibahas pasti jadwal MUNDUR. Yah saya sebagai yang tidak ikut traveling nggak ada hak untuk komentar, tapi yang pasti saya punya penilaian tersendiri. Itu hak saya.

Emm apa lagi ya? Saya suka pelayanan. Mungkin saya ngga akan pindah seksi dalam waktu yang lama. Petualangan di pelayanan mengajarkan banyak hal, terutama sabar. Kota kelahiran dihina padahal ga salah apa apa? Sabar. Kadang kacamata orang orang bisa beda beda, ada yang kacamata kuda yang cuma bisa lihat sisi jelek  ada yang seperti teropong yang luas pandangannya. Kita bisa memilih jadi apa, tapi kadang kadang kita nggak sadar. Jadi pesan saya sih jangan nunggu digampar dulu baru sadar #ehh #sadisss #afgan #rossa #merekaduet #afganfeatraisa #afganfeatrizka #dukungkami #coblos #kumisnya

3 komentar:

  1. Keindahan amal baik yang sesungguhnya adalah Bermanfaat untuk sesama meski tanpa ucapan terima kasih dari objek yg kita bantu/beri pertolongan. InsyaAllah ada keberkahan untuk kita ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas nasihat Anda. Tulisan saya bertujuan membuka mata pembaca bahwa usaha yang membuahkan hasil harus mendapat apresiasi. Tanpa apresiasi, orang akan segan berbuat baik. Berbuat baik saja terkadang masih dihujat bukannya dapat apresiasi. Bagaimana Indonesia mau maju seperti negara Barat apabila mengucapkan dua kata "Terima Kasih" saja sulit. Untuk digarisbawahi, saya tidak mengharapkan imbalan apapun dari pekerjaan ini. Ucapan terima kasih yang ikhlas saya rasa bayaran yang cukup murah namun berkesan.

      Hapus
  2. Kepala suku ya... Hahahahaha.. Ya sabar mah ngadepin kerjaan...

    BalasHapus