Senin, 25 Januari 2016

Permasalahkan Soal Berhenti dan Parkir, Polisi yang Menilang Supir Taksi Jadi Bahan Bullying Netizen

Belakangan ini banyak netizen yang "sok tau" dan "sok jadi hakim". Yaaa gue berkata demikian karena banyak banget meme yang beredar membully polisi yang nilang supir taksi yang sedang berhenti "tepat" di bawah rambu huruf P dicoret alias "dilarang parkir". Lucu sih, baru baca undang undang seuprit aja trus menghakimi. Oh please, kenapa sih yang namanya Polisi selalu salah di mata abang? Apa karena mereka laki-laki lalu dihakimi selalu salah dan perempuan selalu bener, gitu? *baper*

Opening gue udah cukup panas, 'kan? Udah cukup membakar semangat netizen yang mau ngebelain si supir kan? Kalo belum ya gue bakar lagi nih!

Bukannya gue ga simpati sama orang tua, tapiiiii..... mereka adalah dua pihak yang sama sama bekerja, yang satu mencari penumpang mengharap rupiah demi sesuap nasi untuk anak istri, yang satu lagi penegak hukum di jalanan, yang resikonya ketabrak kendaraan, ditembaki teroris (seperti kasus bom sarinah beberapa waktu lalu), yang juga punya anak istri, oy! Coba kalo keluarga kalian yang dihina sampe sebegitu keterlaluannya, kata kata yang tertulis di meme menurut gue udah kelewatan batas. Bebas boleh bebas, bebas yang kayak apa dulu? Bertanggungjawab ga? Oke lah kalau mau koreksi, ya koreksi aja si oknum. Kebiasaan sebagian besar manusia kan begitu, sampai ada pepatah "semut di seberang lautan nampak, gajah dipelupuk mata tak tampak". Terbiasa melihat titik hitam di atas kain putih yang begitu lebarnya, terbiasa melihat kesalahan daripada sisi baiknya, terus kalian merasa menjadi juri yang adil sehingga patut menghakimi seorang yang menjalankan tugas?

Kasihan.

Kasihan kepada kedua pihak, baik yang membully maupun yang terbully. Gue mah gamau ikut ikutan.
Mereka bertindak berdasarkan kondisi, mungkin saat itu jalanan harusnya ramai lancar, ga ada kendaraan yang berhenti, ini kok stop di bawah papan "dilarang parkir", liat lagi lah kondisi si supir, beliau ngerokok lho. Apakah ngerokok itu umum cuma 1 menit 2 menit? paling engga kan 5 menit, ngapain 5 menitan di situ? serius alasannya cuma ngeliat kompresor? ngapain ngeliatin kompresor? mau beli? kalo mau liat kan jalan melambat aja bisa sambil lihat sekilas macem orang orang katro yang memelankan kendaraannya ketika melihat kondisi bekas bom sarinah seakan akan itu sebuah "tempat wisata" baru. kenapa harus dilihatin sambil nongkrong rokokan? please gunain logika lah. Nyalain mesin? Bisa aja kan mesinnya dinyalain untuk pakai ac? atau paling "modus"nya kalau ada penumpang tinggal capcus meluncur, atau kalau ada polisi tinggal capcus melarikan diri. Menurut ngana, itu parkir atau berhenti? So please, pake logika dulu sebelum terlalu strict sama UU yang cuma dibaca sepotong. Terus alasan yang dia paparkan ke polisi, "saya bukan parkir, pak, saya berhenti", dan ada kata-kata yang ketika gue tonton, beliau seakan akan udah sering pake alasan itu. Apa cuma gue yang menyadarinya, atau kalian buta sampai hanya bisa melihat tulisan di layar kalian "POLISI SALAH"?

Lain kondisinya gue balik nih, kalo ternyata mobil mogok, apa si sopir harus mendekam di dalam mobil? pasti keluar kan menepi, ngasi tanda dari jauh, trus buka kap mobil kan? Is it parking? Trus kalo orang itu berhenti PAS di bawah tanda "dilarang parkir", apakah si sopir bakalan di tilang? kalian pasti berkata "TIDAK". YA JELAS GABISA DITILANG LAH, wong force majour alias terpaksa karena keadaan, ya pake hati dan logikamu, di kondisi kayak gini pasti si sopir dipaksa menepi kan, dipaksa berhenti kan? dipaksa parkir kan? bukannya "stop" sambil ngudud, hey. Malah polisi di sini tugasnya mengayomi dengan ngebantu si pengendara. Gue juga pernah lihat itu kok di acara yang sama.


ah atau kondisinya gini deh paling simple, lo liat tanda "P dicoret" tersebut, trus lo liat mobil berjejer, mungkin ada 100 mobil di sana, nyalain mobilnya, sopirnya mendekam di dalam mobil, and the police says nothing, pasti pikiran kalian "ahelah ni polisi kaga kerja buta apa ya matanya itu banyak mobil parkir di bawah tanda itu jelas jelas kok didiemin aja sih?" atau "ada apa sih ini? mana sih polisinya? macet gini ga diatur, kalo sepi aja muncul trus main tilang", jujur aja deh, sebelum kalian baca undang undang itu pasti kalian akan berpikir demikian kan?!

Polisi mah serba salah aja gitu, apalagi polantas, itu yang paling sering disalah-salahin dan paling sering dihujat trus digeneralisasi semua polisi jelek. Kalo ga ada polisi, lu pikir siapa yang ngelindungin? Ga malu dilindungin orang yang ga bisa baca undang undang? Ga mau pindah negara aja? Pindah aja, cari aja negara yang polisinya paling suci. Kalo di negara ini orang orangnya suci semua, polisi ga ada kerjaan, penjara jadiin kos kosan aja! Hakim sama jaksa cari kerjaan laen aja.

Inget ya, salah dan khilaf bisa terjadi di mana aja, oknum juga bisa ada di sebuah lingkungan, apalagi lingkungan dengan beragam macam kebudayaan dan pikiran. Lo mau hujat hujat polisi? Lo bikin meme yang bikin sakit mata untungnya apa? Popularitas? Like yang banyak? Jadi selebritis? Sorry gue ga mau bilang artis, menurut gue artis itu berkarya memajukan bangsa, yang cari popularitas itu selebritis. perlu ditegasin gue bukan berasal dari keluarga polisi jadi gue juga ga memihak, cuma di sini gue pengen ngasi tau aja, kotak saran banyak bertebaran. Tulislah dengan bahasa yang lebih santun. Lo mau bilang gue ga santun? Oke Menurut lo dengan bilang di meme kalo polisi itu gabisa baca lah, lulus nyogok lah, hapalah yang kasar kasar, itu santun? Pikir aja sendiri.


Pesan gue bagi penonton yang sekedar nonton baik itu yang memang suci dari menyalahi aturan lalu lintas maupun sok suci, STOP lah kalian membuat meme yang tulisannya memalukan. Pindahin aja channelnya, jangan nonton reality show macem itu lagi kalo emang ga suka, nonton aja noh natgeo wild atau animal planet supaya bisa bedain mana manusia dan mana binatang. lebih berbobot kok daripada nonton tilang tilangan malem malem.

Lo bebas bikin meme, gue bebas bikin postingan. Ya 'kan? Ini blog gue, semua yang gue tulis bebas doooong, dan yang pasti bertanggungjawab, ga kayak meme yang bertebaran di luar sana. Atau kamu salah satu pembuatnya?! hihi

Read More......

Sabtu, 05 Desember 2015

Keluh Kesah Anak Kantoran Season II

sebenernya banyak yang mau ditulis, bukan keluh kesah sih, cuma pengen cerita aja soal kantor, biar nyambung sama cerita yg kemaren aja pake judul samaan.
Alhamdulillah ada banyak yang bisa saya bahas dari kantor saya.

Pertama,masalah sosialisasi. Beberapa waktu yang lalu, kepala suku dari bagian lain manggil saya, beliau minta kesanggupan saya (kalau ada waktu) nelponin customer (berikutnya disebut WP aja ya) sekitar 20 WP Badan. Karena saya tadinya merasa ringan, saya menyanggupi gawean ini. Planning awal tugas dibagi 3, saya 20, sekretaris 20, dan pelaksana penagihan 20.

Dua hari kemudian, saya mendapat list dari anak smk yang magang di seksi yang punya gawean (sebut saja eksten). Listnya FULL 54 WP Badan ditambah 21 WP Badan yang kembalipos (kempos). Awalnya saya terima-terima saja karena di frontline saya pun banyakkk gawean (tidak seperti yang saya perkirakan 2 hari sebelumnya). Setelah selesai melayani satu WP, saya baca lah list yang tadi. Saya shock! Katanya 20, kok jadi banyak?! Dari list itu, saya lihat beberapa ada yang kosong, oh mungkin aku harus telpon yang belum ada nomornya ini. Baru sekitar 10 WP, saya lelah karena kebanyakan di sistem tidak tercantum nomor telepon atau nomor telepon tidak dapat dihubungi. Akhirnya saya adukan ke yang punya gawe, seksi eksten. Well, jawaban yang saya dapat cukup mengejutkan, sekretarisnya sedang dinas, daaan pelaksana seksi penagihan lagi sakit. Padahal baru aja paginya saya lihat beliau baik baik saja. Mungkin sakit mendadak, pikir saya. Positive thinking aja lah kalo sudah begini. Kesel sih, menurutmu?!

Saya sudah desperate, mau meninggalkan pekerjaan ini, tapi nggak tega. Desperatenya karena dari awal mentalnya disiapkan utk nelpon 20 WP saja (perjanjian 17 WP). Akhirnya dengan penuh kesabaran dan tanggungjawab , saya nelponin semuanya. I dont expect too much from what i've done. Setelah nelpon, ada beberapa yang masih belum bisa kasih konfirmasi hadir atau tidak. Ternyata setelah jam makan siang, satu per satu telepon bersahutan, untuk saya. Dan yang konfirmasi ada sekitar 20 WP, mungkin lebih. Sumpah, ekspektasi saya mungkin yang hadir/konfirm hanya 10an. Di situ saya merasa bersyukur dan bahagia :D

Lalu saya mau konfirmasi ke kepala seksi eksten, ternyata beliau berangkat ke jakarta menyusul anak buahnya. Pantesan...
Saya hanya bisa berdecak lalu pergi. Saya kayaknya kok gak tau apaapa ya di sini, pikir saya lagi.

Tibalah hari penyelenggaraan sosialisasi. Saya mendapat notifikasi dari sosmed, ada foto dan saya di-tag, dengan tulisan yang kira kira isinya nggak nyangka yang datang banyak. Saya, sebagai yang bersusah payah, otomatis nyeletuk, "Siapa dulu yang nelponin?". Andaikan mereka yang cuma bisa ngomong komentar dan tanya2 itu tau effortnya. Yang hadir fyi ada 45 orang, dari 54 WP yang coba dihubungi. Saya seneng effort saya terbalas lah.


Dan setelah itu semua, tiada kata terucap, baik dari pemilik gawean, maupun dari saudara saudara sekalian yang punya tanggungjawab atas acara ini. Dan saya pun berpikir, bukannya minta sesuatu, tapi maksud saya ya cukup tau aja lah gitu. Nggak minta pamrih juga, cuma tolong hargai usaha sekecil apapun. Tapi ah sudahlah.. saya pikir itu seharusnya kesadaran pribadi sih.


Selanjutnya mengenai rencana wisata ke suatu pulau, yang katanya pantainya indah, di tengah lautan. Imagine, untuk ke sana saja naik kapal nelayan (tolong digarisbawahi) butuh waktu 8 jam. Nurani saya sudah menolak, tapi dengan antusias temen temen dan harga 800ribu, saya iyakan ajakan teman saya ini. 2 minggu kemudian, waktunya diundur dan harga pun melonjak naik kisaran 1 juta. Wuidih, udah kayak apartemen aja nih, tiap senin harga naik 100 ribu ciyn. Eike mulai sepakat sama hati nurani untuk berkata tidak. Dan dibahas terus di grup, dan setiap dibahas pasti jadwal MUNDUR. Yah saya sebagai yang tidak ikut traveling nggak ada hak untuk komentar, tapi yang pasti saya punya penilaian tersendiri. Itu hak saya.

Emm apa lagi ya? Saya suka pelayanan. Mungkin saya ngga akan pindah seksi dalam waktu yang lama. Petualangan di pelayanan mengajarkan banyak hal, terutama sabar. Kota kelahiran dihina padahal ga salah apa apa? Sabar. Kadang kacamata orang orang bisa beda beda, ada yang kacamata kuda yang cuma bisa lihat sisi jelek  ada yang seperti teropong yang luas pandangannya. Kita bisa memilih jadi apa, tapi kadang kadang kita nggak sadar. Jadi pesan saya sih jangan nunggu digampar dulu baru sadar #ehh #sadisss #afgan #rossa #merekaduet #afganfeatraisa #afganfeatrizka #dukungkami #coblos #kumisnya

Read More......

Kamis, 12 November 2015

Keluh Kesah Anak Kantoran Season I (gatau sampe season berapa, tolong kalo bosan ga usah dibaca lagi

sial tulisan gue ga kesave. gajadi curhat deh, cape udah nulis sejam. bye

Read More......

Senin, 31 Agustus 2015

"Jadi Cewek Jangan Manja!"

"Tuh, jadi cewek jangan manja!" Beginilah kesimpulan percakapan antara saya, sahabat saya, dan (dulunya) dosen Bahasa Inggris saya. Hari ini saya dan sahabat saya, Mas Fakhrul, pergi ke bengkel motor sekitar pukul 10 siang. Saya diajak menemaninya ke bengkel mungkin karena dipikirnya saya belum pernah ke bengkel motor, padahal kan dulu saya pacaran sama montir (yah curhat, deh!).


Di kantor sangatlah sepi, Kepala Kantor dan beberapa pimpinan eselon IV sedang DL (Dinas Luar), jadilah saya belingsatan kebosanan di ruangan karena kurang kerjaan. Biasanya saya menghabiskan waktu membosankan ini dengan membaca buku yang saya pinjam (kadang nggak bilang, hehe) dari teman saya yang saat ini sedang Diklat Prajabatan. Duh, kalau melihat teman saya Prajab sementara saya mengganggur begini, rasanya saya wondering kapaaaaan ya bakalan Prajab. Saya meyakinkan diri bahwa tahun depan (2014) saya akan merasakan Diklat Prajab juga. Hmmph!


Mengakali kebosanan kali ini, saya ikut teman saya ke bengkel, saya pikir saya akan menemukan sesuatu yang baru. Tetapi dari buku yang saya baca, kehidupan itu berputar, jadi tidak ada yang baru, yang ada adalah kita menemukan sesuatu yang lama dengan kemasan yang baru. Kami membawa Vixion di bawah terik matahari pagi menjelang siang, dengan kelajuan 40-60 km/h supaya teman saya tidak makin menghitam akibat berpanas-panasan mengganggu mengurusi Dinamika Kelompok-nya Prajab. Sesampainya di bengkel, tempat parkir penuh sesak dengan motor-motor mulai dari tipe bebek sampai tipe pembalap kayak yang dibawa teman saya.


Setelah itu, kami masuk dan menghadang (alah, bahasanya!) mbak-mbak salesgirl yang cantik yang siap sedia melayani orang-orang yang kepengen service. Menunggu sambil nonton tv, 10 menit, 20 menit, 30 menit, kok belum diapa-apain motornya, masuk pit saja enggak, tuh! Saya masih bisa sabar dan menahan untuk tidak melakukan hal bodoh yang memalukan. Sampai akhirnya, saya tiba tiba melihat seorang wanita, berpakaian hitam, berkerudung paris hitam, mengenakan jaket hitam, headset hitam, ransel, serta celana jins panjang, berdiri di samping saya sambil berbincang tepatnya mengomeli salah satu montir di bengkel. Saya kontan langsung mengenali style wanita satu ini.


"Itu Miss Oshie, kan, ya?," tanyaku dalam hati, guna memastikan, aku tanyakan ke temanku. Dia agak ragu sih, tapi aku meyakinkan, "itu jelas style-nya Miss Oshie!" Kami bertanya-tanya seperti ini sebab wanita ini membelakangi kami, jadi wajahnya tak tampak. Lalu wanita ini ngeloyor berjalan keluar bersama sang montir tanpa lihat kiri-kanan supaya melihat kami, tampaknya tatapan mata wanita ini terlalu fokus ke depan, sampai kami tak terlihat (pede banget, ya, pengen kelihatan hehehe). Tiba-tiba wanita ini ada lagi di depan mata saya dengan posisi tetap membelakangi saya. Lalu berbincang mengomeli montir yang itu juga.


Setelah (agak) puas, ia duduk di depan saya tanpa lihat kanan-kiri langsung menghadap televisi layar lebar yang ada di depan kursi tunggu. Saya mengetuk pundaknya dua kali, kalau ia tidak sadar, yasutralah, pikir hati saya. Ehh..ternyata ia menoleh, saya bingung harus bilang apa, tapi saya yakin saya tidak salah orang, begitu ia menoleh, "Hai, Miss," kata saya sambil melambaikan tangan ke kiri dan ke kanan. Ternyata saya tidak salah orang, tapi respon yang saya terima cukup lama (yah sepersekian detik yang berasa kayak 60 detik), "Loh, Rizka, astaga, sudah lama duduk di sini? Dari jam berapa? Sama siapa?" Pertanyaan langsung mencerca saya begitu Miss Oshie sadar akan kehadiran saya.


"Ehehe, baru aja kok, Miss. Nih sama ini." jawab saya yang daritadi bengong terheran-heran sambil menunjuk teman yang duduk di sebelah saya. "Oh, siapa namanya? Emmm..." tanyanya sambil berpikir. Teman saya langsung sebut nama. Kenapa saya panggil "Miss"? Karena sudah jadi kebiasaan :p Ia adalah dosen Bahasa Inggris saya ketika semester I. Sudah jadi kebiasaan pula memanggil seorang guru/dosen bahasa asing dengan sebutan 'asing'. Misalnya guru Bahasa Jerman saya waktu SMA, dipanggilnya 'Frau' yang setara artinya dengan 'Mrs' atau 'Miss' di Bahasa Inggris.


Akhirnya kami ngobrol panjang lebar, mulai dari soal kerjaan saya, kerjaan teman saya, kerjaan dosen saya, tulisan dosen saya yang sudah berkembang menjadi 75.000 kata, wah, perkembangannya lebih dari 2 kali lipat. Obrolan paling menarik adalah tentang motor. Kami membahas bagaimana cara mengganti busi. Miss Oshie bercerita bahwa dulu ia dipaksa ayahnya belajar membuka busi, dan juga harus mempunyai cadangan busi yang berkualitas yang selalu dibawa. Dan ternyata pelajaran tadi berguna sekali ketika Miss Oshie masih di bangku sekolah, motornya tiba-tiba rusak, udah gitu takut pula terlambat. Ia mencoba membuka salah satu bagian motornya tapi kesulitan,. Akhirnya, ia menyerah dan meminta tolong kepada temannya untuk membuka bagian tersebut, lalu ia memasang busi yang baru, dan voila.. Motornya mau nyala lagi, wih heebat ,ya!





Balikpapan, 17 April 2013

Read More......

Make Your Own Decision!

Catur itu permainan, terserah kita mau memainkannya seperti apa, tapi kalau tidak hati-hati, kita bisa disetir oleh lawan. Kita bisa angkat pion, dorong benteng, mainkan kuda, geser rajanya, "makan" lawan, segala macam kemungkinan selalu ada ketika bermain catur. Apakah kita yang teriak "skak-mat", atau kita yang diam tak bergerak.

Sama seperti bicara. Lidah itu senjata, bibir itu pion, rajanya adalah pikiran kita. Setelah bergerak, tidak mungkin kita tarik lagi kata-kata kita. Kita tarik kembali pun, keadaan tidak akan sama. Karena lawan mau tak mau sudah bergerak.

Terkadang aku merasa tidak salah tapi dipersalahkan, dan itu menyakitkan. Ketika aku bicara baik-baik, menjaga perasaanmu, dan kau balas dengan makian, ingatlah yang kau maki ini seorang perempuan, makhluk yang mungkin terlihat kuat. Ternyata ia rapuh, ternyata ia mudah hancur digerogoti perasaan salah.

Mungkin ini saatnya aku berhenti sok jago, ini saatnya aku berhenti sok kuat, berhenti berteman dengan hati yang rapuh dan berusaha menjadi sahabat untuk hati yang mudah memaki. Ini saatnya aku berdiri di balik badan seseorang yang kuat, fisik maupun mental.

Ini saatnya, dan aku siap.





*postingan ini dibuat sekitar 2 tahun yang lalu.

Read More......