sebenernya banyak yang mau ditulis, bukan keluh kesah sih, cuma pengen cerita aja soal kantor, biar nyambung sama cerita yg kemaren aja pake judul samaan.
Alhamdulillah ada banyak yang bisa saya bahas dari kantor saya.
Pertama,masalah sosialisasi. Beberapa waktu yang lalu, kepala suku dari bagian lain manggil saya, beliau minta kesanggupan saya (kalau ada waktu) nelponin customer (berikutnya disebut WP aja ya) sekitar 20 WP Badan. Karena saya tadinya merasa ringan, saya menyanggupi gawean ini. Planning awal tugas dibagi 3, saya 20, sekretaris 20, dan pelaksana penagihan 20.
Dua hari kemudian, saya mendapat list dari anak smk yang magang di seksi yang punya gawean (sebut saja eksten). Listnya FULL 54 WP Badan ditambah 21 WP Badan yang kembalipos (kempos). Awalnya saya terima-terima saja karena di frontline saya pun banyakkk gawean (tidak seperti yang saya perkirakan 2 hari sebelumnya). Setelah selesai melayani satu WP, saya baca lah list yang tadi. Saya shock! Katanya 20, kok jadi banyak?! Dari list itu, saya lihat beberapa ada yang kosong, oh mungkin aku harus telpon yang belum ada nomornya ini. Baru sekitar 10 WP, saya lelah karena kebanyakan di sistem tidak tercantum nomor telepon atau nomor telepon tidak dapat dihubungi. Akhirnya saya adukan ke yang punya gawe, seksi eksten. Well, jawaban yang saya dapat cukup mengejutkan, sekretarisnya sedang dinas, daaan pelaksana seksi penagihan lagi sakit. Padahal baru aja paginya saya lihat beliau baik baik saja. Mungkin sakit mendadak, pikir saya. Positive thinking aja lah kalo sudah begini. Kesel sih, menurutmu?!
Saya sudah desperate, mau meninggalkan pekerjaan ini, tapi nggak tega. Desperatenya karena dari awal mentalnya disiapkan utk nelpon 20 WP saja (perjanjian 17 WP). Akhirnya dengan penuh kesabaran dan tanggungjawab , saya nelponin semuanya. I dont expect too much from what i've done. Setelah nelpon, ada beberapa yang masih belum bisa kasih konfirmasi hadir atau tidak. Ternyata setelah jam makan siang, satu per satu telepon bersahutan, untuk saya. Dan yang konfirmasi ada sekitar 20 WP, mungkin lebih. Sumpah, ekspektasi saya mungkin yang hadir/konfirm hanya 10an. Di situ saya merasa bersyukur dan bahagia :D
Lalu saya mau konfirmasi ke kepala seksi eksten, ternyata beliau berangkat ke jakarta menyusul anak buahnya. Pantesan...
Saya hanya bisa berdecak lalu pergi. Saya kayaknya kok gak tau apaapa ya di sini, pikir saya lagi.
Tibalah hari penyelenggaraan sosialisasi. Saya mendapat notifikasi dari sosmed, ada foto dan saya di-tag, dengan tulisan yang kira kira isinya nggak nyangka yang datang banyak. Saya, sebagai yang bersusah payah, otomatis nyeletuk, "Siapa dulu yang nelponin?". Andaikan mereka yang cuma bisa ngomong komentar dan tanya2 itu tau effortnya. Yang hadir fyi ada 45 orang, dari 54 WP yang coba dihubungi. Saya seneng effort saya terbalas lah.
Dan setelah itu semua, tiada kata terucap, baik dari pemilik gawean, maupun dari saudara saudara sekalian yang punya tanggungjawab atas acara ini. Dan saya pun berpikir, bukannya minta sesuatu, tapi maksud saya ya cukup tau aja lah gitu. Nggak minta pamrih juga, cuma tolong hargai usaha sekecil apapun. Tapi ah sudahlah.. saya pikir itu seharusnya kesadaran pribadi sih.
Selanjutnya mengenai rencana wisata ke suatu pulau, yang katanya pantainya indah, di tengah lautan. Imagine, untuk ke sana saja naik kapal nelayan (tolong digarisbawahi) butuh waktu 8 jam. Nurani saya sudah menolak, tapi dengan antusias temen temen dan harga 800ribu, saya iyakan ajakan teman saya ini. 2 minggu kemudian, waktunya diundur dan harga pun melonjak naik kisaran 1 juta. Wuidih, udah kayak apartemen aja nih, tiap senin harga naik 100 ribu ciyn. Eike mulai sepakat sama hati nurani untuk berkata tidak. Dan dibahas terus di grup, dan setiap dibahas pasti jadwal MUNDUR. Yah saya sebagai yang tidak ikut traveling nggak ada hak untuk komentar, tapi yang pasti saya punya penilaian tersendiri. Itu hak saya.
Emm apa lagi ya? Saya suka pelayanan. Mungkin saya ngga akan pindah seksi dalam waktu yang lama. Petualangan di pelayanan mengajarkan banyak hal, terutama sabar. Kota kelahiran dihina padahal ga salah apa apa? Sabar. Kadang kacamata orang orang bisa beda beda, ada yang kacamata kuda yang cuma bisa lihat sisi jelek ada yang seperti teropong yang luas pandangannya. Kita bisa memilih jadi apa, tapi kadang kadang kita nggak sadar. Jadi pesan saya sih jangan nunggu digampar dulu baru sadar #ehh #sadisss #afgan #rossa #merekaduet #afganfeatraisa #afganfeatrizka #dukungkami #coblos #kumisnya
Sabtu, 05 Desember 2015
Keluh Kesah Anak Kantoran Season II
Kamis, 12 November 2015
Keluh Kesah Anak Kantoran Season I (gatau sampe season berapa, tolong kalo bosan ga usah dibaca lagi
sial tulisan gue ga kesave. gajadi curhat deh, cape udah nulis sejam. bye
Read More......Senin, 31 Agustus 2015
"Jadi Cewek Jangan Manja!"
"Tuh, jadi cewek jangan manja!" Beginilah kesimpulan percakapan antara saya, sahabat saya, dan (dulunya) dosen Bahasa Inggris saya. Hari ini saya dan sahabat saya, Mas Fakhrul, pergi ke bengkel motor sekitar pukul 10 siang. Saya diajak menemaninya ke bengkel mungkin karena dipikirnya saya belum pernah ke bengkel motor, padahal kan dulu saya pacaran sama montir (yah curhat, deh!).
Di kantor sangatlah sepi, Kepala Kantor dan beberapa pimpinan eselon IV sedang DL (Dinas Luar), jadilah saya belingsatan kebosanan di ruangan karena kurang kerjaan. Biasanya saya menghabiskan waktu membosankan ini dengan membaca buku yang saya pinjam (kadang nggak bilang, hehe) dari teman saya yang saat ini sedang Diklat Prajabatan. Duh, kalau melihat teman saya Prajab sementara saya mengganggur begini, rasanya saya wondering kapaaaaan ya bakalan Prajab. Saya meyakinkan diri bahwa tahun depan (2014) saya akan merasakan Diklat Prajab juga. Hmmph!
Mengakali kebosanan kali ini, saya ikut teman saya ke bengkel, saya pikir saya akan menemukan sesuatu yang baru. Tetapi dari buku yang saya baca, kehidupan itu berputar, jadi tidak ada yang baru, yang ada adalah kita menemukan sesuatu yang lama dengan kemasan yang baru. Kami membawa Vixion di bawah terik matahari pagi menjelang siang, dengan kelajuan 40-60 km/h supaya teman saya tidak makin menghitam akibat berpanas-panasan mengganggu mengurusi Dinamika Kelompok-nya Prajab. Sesampainya di bengkel, tempat parkir penuh sesak dengan motor-motor mulai dari tipe bebek sampai tipe pembalap kayak yang dibawa teman saya.
Setelah itu, kami masuk dan menghadang (alah, bahasanya!) mbak-mbak salesgirl yang cantik yang siap sedia melayani orang-orang yang kepengen service. Menunggu sambil nonton tv, 10 menit, 20 menit, 30 menit, kok belum diapa-apain motornya, masuk pit saja enggak, tuh! Saya masih bisa sabar dan menahan untuk tidak melakukan hal bodoh yang memalukan. Sampai akhirnya, saya tiba tiba melihat seorang wanita, berpakaian hitam, berkerudung paris hitam, mengenakan jaket hitam, headset hitam, ransel, serta celana jins panjang, berdiri di samping saya sambil berbincang tepatnya mengomeli salah satu montir di bengkel. Saya kontan langsung mengenali style wanita satu ini.
"Itu Miss Oshie, kan, ya?," tanyaku dalam hati, guna memastikan, aku tanyakan ke temanku. Dia agak ragu sih, tapi aku meyakinkan, "itu jelas style-nya Miss Oshie!" Kami bertanya-tanya seperti ini sebab wanita ini membelakangi kami, jadi wajahnya tak tampak. Lalu wanita ini ngeloyor berjalan keluar bersama sang montir tanpa lihat kiri-kanan supaya melihat kami, tampaknya tatapan mata wanita ini terlalu fokus ke depan, sampai kami tak terlihat (pede banget, ya, pengen kelihatan hehehe). Tiba-tiba wanita ini ada lagi di depan mata saya dengan posisi tetap membelakangi saya. Lalu berbincang mengomeli montir yang itu juga.
Setelah (agak) puas, ia duduk di depan saya tanpa lihat kanan-kiri langsung menghadap televisi layar lebar yang ada di depan kursi tunggu. Saya mengetuk pundaknya dua kali, kalau ia tidak sadar, yasutralah, pikir hati saya. Ehh..ternyata ia menoleh, saya bingung harus bilang apa, tapi saya yakin saya tidak salah orang, begitu ia menoleh, "Hai, Miss," kata saya sambil melambaikan tangan ke kiri dan ke kanan. Ternyata saya tidak salah orang, tapi respon yang saya terima cukup lama (yah sepersekian detik yang berasa kayak 60 detik), "Loh, Rizka, astaga, sudah lama duduk di sini? Dari jam berapa? Sama siapa?" Pertanyaan langsung mencerca saya begitu Miss Oshie sadar akan kehadiran saya.
"Ehehe, baru aja kok, Miss. Nih sama ini." jawab saya yang daritadi bengong terheran-heran sambil menunjuk teman yang duduk di sebelah saya. "Oh, siapa namanya? Emmm..." tanyanya sambil berpikir. Teman saya langsung sebut nama. Kenapa saya panggil "Miss"? Karena sudah jadi kebiasaan :p Ia adalah dosen Bahasa Inggris saya ketika semester I. Sudah jadi kebiasaan pula memanggil seorang guru/dosen bahasa asing dengan sebutan 'asing'. Misalnya guru Bahasa Jerman saya waktu SMA, dipanggilnya 'Frau' yang setara artinya dengan 'Mrs' atau 'Miss' di Bahasa Inggris.
Akhirnya kami ngobrol panjang lebar, mulai dari soal kerjaan saya, kerjaan teman saya, kerjaan dosen saya, tulisan dosen saya yang sudah berkembang menjadi 75.000 kata, wah, perkembangannya lebih dari 2 kali lipat. Obrolan paling menarik adalah tentang motor. Kami membahas bagaimana cara mengganti busi. Miss Oshie bercerita bahwa dulu ia dipaksa ayahnya belajar membuka busi, dan juga harus mempunyai cadangan busi yang berkualitas yang selalu dibawa. Dan ternyata pelajaran tadi berguna sekali ketika Miss Oshie masih di bangku sekolah, motornya tiba-tiba rusak, udah gitu takut pula terlambat. Ia mencoba membuka salah satu bagian motornya tapi kesulitan,. Akhirnya, ia menyerah dan meminta tolong kepada temannya untuk membuka bagian tersebut, lalu ia memasang busi yang baru, dan voila.. Motornya mau nyala lagi, wih heebat ,ya!
Balikpapan, 17 April 2013
Make Your Own Decision!
Catur itu permainan, terserah kita mau memainkannya seperti apa, tapi kalau tidak hati-hati, kita bisa disetir oleh lawan. Kita bisa angkat pion, dorong benteng, mainkan kuda, geser rajanya, "makan" lawan, segala macam kemungkinan selalu ada ketika bermain catur. Apakah kita yang teriak "skak-mat", atau kita yang diam tak bergerak.
Sama seperti bicara. Lidah itu senjata, bibir itu pion, rajanya adalah pikiran kita. Setelah bergerak, tidak mungkin kita tarik lagi kata-kata kita. Kita tarik kembali pun, keadaan tidak akan sama. Karena lawan mau tak mau sudah bergerak.
Terkadang aku merasa tidak salah tapi dipersalahkan, dan itu menyakitkan. Ketika aku bicara baik-baik, menjaga perasaanmu, dan kau balas dengan makian, ingatlah yang kau maki ini seorang perempuan, makhluk yang mungkin terlihat kuat. Ternyata ia rapuh, ternyata ia mudah hancur digerogoti perasaan salah.
Mungkin ini saatnya aku berhenti sok jago, ini saatnya aku berhenti sok kuat, berhenti berteman dengan hati yang rapuh dan berusaha menjadi sahabat untuk hati yang mudah memaki. Ini saatnya aku berdiri di balik badan seseorang yang kuat, fisik maupun mental.
Ini saatnya, dan aku siap.
*postingan ini dibuat sekitar 2 tahun yang lalu.
Awal Mula Keluh Kesah Anak Kantoran
Hallo, apa kabar pecinta blog ku tersayang? Blog ku loh yang disayang yaa, eh yang suka sama blogku juga disayang deh *shy
Malam ini gw ngetik meraba raba diantara gelapnya malam. Ya, mati listrik. Shit just got real. Fortunately, aku bisa ngetik 10 jari, jadi ngga masalah meraba raba. Yaaa walaupun kadang kadang typo dan sulit mencari tombol del. Kalo udah muak, ctrl+alt+del aja. Ga jarang tulisannya keapus gara gara mouse pad nya lupa dimatiin.
Klo dibilang jarang update, emang! Tapi tagihannya dibayaar terus, tekor ane gan. Beban di pikiran dan beban di ongkos. Ini blog ya Cuma buat senang senang sih. Lebih tepatnya buat berkeluh kesah apa yang gabisa dikeluarin di real world.
Suatu kebodohan karena gue lupa mengatakan sesuatu. HAPPY BIRTHDAY TO ME! Yay Happy 17th+ birthday to me and only me. Untuk plusnya berapa, cukup orang orang tertentu aja yang tau. Gue 17 dan gue happy. Hahaha. Di ultah gue yang ke 17 yang kesekian kalinya ini, entahlah. Terasa sepi. Tapi ngga sesepi tahun tahun sebelumnya. Ada temen temen di kantor yang merayakan. Ritualnya kalo di seksi gue, tar ada hadiah kejutan. Dikumpulin dulu, abis itu ditaroh di meja pas orangnya ngga ada. Hadiahnya emang aneh aneh, tapi gue seneng. Kadang hadiahnya kocak kocak. Yang paling surprise itu hadiah dari kepala seksi gue. Kemarennya beliau yang potong tumpeng, besoknya gue yang potong pizza. Makasih ya pak kado dan treatnya.
Btw, gue mau berkeluh kesah soal kerjaan. Yep, udah 2 tahun gue kerja, mungkin ga tepat 2 tahun, mengawali karir di kantor yang sekarang kan april 2014 (ah susah disuruh ngetik angka, ga apal key nya). Udah ya kalo angka angka mending gue tulis pake huruf dulu sementara, deal? Deal *shakehand
Sekitar dua tahun lah udah kerja di kantor ini, ada aja kejadian yang tidak menyenangkan, menurut gue. Kejadian yang tidak menyenangkan dalam waktu dekat ini adalah mutasi. MUTASI. Ewwww... ngeliat surat mutasi yang kemaren, sangat tidak menyenangkan. Gue harus terpisah dari sahabat sekaligus udah gue anggep mbak gue, mbak dewi. Maklum lah gue ga punya kakak cewe. Yaa begitulah. Kacau balau susunan kabinet toedjoeh doea satoe. Akhirnya kerjaan di seksi gue banyak sih yang terbengkalai. Sebenernya lebih karena gue ga punya semangat ngerjain. Itu spt pos udah gue pisah yang manual ama e spt. Tapi mohon maaf yang e spt ga gue kerjain dulu, lelah hati ini meyakinkanmu mutasi ini membunuhku. Hahahahaha
Ngga..ngga.. sebenernya lebih ke malas, ga ada semangat karena kawan berkisah sudah hilang satu, dan ga ada yang dikejar dari spt pos itu. Apa kalo gue nyelesain spt pos dalam lima hari, gue dapat reward? Rasanya ngga tuh. Bulan lalu bisa dibilang suatu achievement tersendiri lah buat gue, buat bangga diri sendiri bisa ngelakuin hal itu. Tapi ketika sekali achieve, abis itu bubar lah rasa itu. Ditambah mutasi yang bikin acakadut kantor, sebenernya bukan mbak dewi seorang yang dimutasi, banyak. Most of them are seniors. Berdasarkan kebijakan, para senior yang kira kira udah lebih dari lima tahun kudu rolling, dan rolling nya rolling kantor. Ya kalo mba dewi Cuma pindah sekedar ke madya atau kanwil sih gamasalah, kantornya sebelahan. Gue masi bisa mampir sebagai junior yang baik *jahil. Lah ini ke penajam meeeeen.. iya sih satu kota, tapi jaooooohhhhhh, dah gitu gue nya ga mobile. Dah males lah akhirnya. Tapi jangan khawatir, gue tetep sayang mbak dewi.
Oke selanjutnya yang jadi masalah adalah selain personilnya acakadut, acara perpisahan ngga bisa berlangsung. Kantor juga gabisa ngadain acara tujuhbelasan. Kenapaa? Karenaaa ada problem lain, orang pusat datang. Membuat semua orang menjadi gempar. Macem kera sakti! Semingguan itu para rakyat lantai tiga disibukan dengan orang yang mau monev itu, entah apa gue ngga paham kerjaannya. Yang pasti, sebel. Sempet ada pramubakti yang nyeletuk, kok ga ada acara tujuhbelasan sih di kantor kita? Udah deh, disitu gue ketus banget jawabnya, jangankan tujuhbelasan, perpisahan para pegawai yang mutasi aja kaga bisa diselenggarain. Seakan ga ada waktu. Emang saat itu ngga ada waktu, selain pegawai lantai tiga sibuk, lantai satu pun sibuk dengan customer yang membludak di tanggal duapuluh. Pokoknya kalo udah mau tanggal duapuluh, jangan harap ada kata istirahat ataupun berhenti. Printer krat kret krat kret uggghhh berisiknyaa. Kadang kalo gue pusing, printernya gue pause dulu. Tar kalo udah semua keinput, baru deh printernya dijalanin lagi. Intermezzo nya sih bercermin, main hp, atau apapun yang bisa dilakukan.
Tadi juga puncaknya ombak laporan ppn. Pusing berisik banget. Anak kecil teriak teriak ngga karuan, belum lagi balita yang nginjek nginjek tutup kabel yang di lantai, (yang dari besi bunyinya glodak glodek mengundang untuk diinjak), nginjaknya ngga nyantai pula, sengaja diloncatin, oh God. Akhirnya jam 12 siang gue cari tempat yang agak sunyi dari hingar bingar. Lantai tiga. Disambil nganter catering lah, duduk sejenak memandang komplek perumahan yang entah kapan harganya bisa dijangkau pelaksana golongan dua kayak gue.
Hmm,, apa lagi ya? Dulu gue main ke lantai tiga sukanya belok kanan, emang karena kerjaan sih. Dari awal kerja gue ngebiasain apa yang bisa gue kerjain, gue kerjain sendiri. Yaa kayak nganter nganter surat ini. Selain ngelepas jenuh liat customer yang udah duduk aja pagi pagi, bisa lah tuker info apa gitu. Sekarang gue suka ke lantai tiga, belok kiri dan kanan, yaa ke kanan dulu lah naroh beban. Surat surat itu berat lho, tebel tebel. Kalo belok kiri ya kadang kadang emang nganter surat, kadang kadang Cuma tuker info. Ya kalo ada info ya. Kalo ga ada yaaa... tuker uang aja deh.
Sekarang gue bisnis catering. Emm bukan bisnis sih, ngurusin makannya orang orang di kantor. Yiaa repot sih nambah lagi kerjaan, tapi menyenangkan kok. kalo pagi ngirimin pesan ke temen temen sekantor, ngga sekantor juga sih, yg emang niat aja yang dikirimin. Gue seperti pramusaji sih, nyatetin apa yang diorder, trus tar siang makanan dateng, gue cek satu per satu. Cocok ga ama pesenan. Kadang kadang ga cocok, ya apa mau dikata. Tapi selama gue yang ngurus pesenan sama yang dateng cocok sih.
Sejak para senior menghilang dari customer service, gue jadi pusat tanya jawab. Kalo gue gatau, ya sama sama cari tau, entah itu buka taxbase, atau tanya senior yang lain. Gue termasuk orang yang ga puas kalo ga bisa jawab, jadi gue cari jawabannya meskipun harus keujung dunia *cailaaaahhh gayamu nduuuk. Tapi emang itu sifat gue sejak dulu. Kalo ngasi jawaban atau dapat jawaban yang nanggung nanggung itu ga enak banget. Gue ga berusaha sok tau, ga juga bersikap seakan akan gue paling pinter, tapi emang gue kudu pinter pinter ngasi jawaban.
Apa lagi ya yang pengen gue ceritain??
Hmmm... sebenernya ada hal privasi yang pengen gue ceritain di sini. Tapi menurut gue, cukup gue yang tau deh. Pengen tau yaaa? SKIP!
Oke cari cerita yang lain.
Ada satu cerita lagi, ini sih bukan cerita tapi kabar gembira untuk kita semua, kulit durian kini ada ekstraknya.
eh -_- bukaaaaaan... kabar gembira nya datang dari temen temen gue di balai diklat. Rasanya seneng, sedikit sedih juga harus ditinggal mereka pergi menuntut ilmu ke ibukota. Mereka lulus D4 khusus. Belum lagi ada yang suami istri lulus D4 khusus, seneng banget ya. Gue turut bersuka cita untuk kalian berdua. Untuk temen temen yang lain, mas mas jelek yang dulu suka ngegencet sekretarisnya kepala balai yang cantik ini, selamat ya untuk kalian. Kalian emang luar binasa. Bisa ya satu angkatan masuk bareng, trus D4 juga pergi bareng. Gue harap bisa ngikut jejak kalian ikut D4 khusus. Ehtapi gue kan kudu D3 dulu. Namanya harapan sah sah aja kan?!
Cerita yang ga penting lainnya, kemaren baru aja diadakan USM STAN, yang sekarang udah ganti nama jadi politeknik. Ini gue ga paham apa maksudnya, apa mungkin ini adalah konspirasi supaya suatu saat, STAN bukan lagi milik negara, tapi dikomersilkan. Dari dulu gosipnya udah ke arah sana sih. Apa mungkin? Mungkin aja. Suka suka menteri keuangannya ajalah anak buahnya mau dikemanain. Dan gue baru tau dua tahun terakhir usm ngga diselenggarakan di SMA 1 dan sekitarnya, tapi di SMK 3. Menurut gue sih lokasi SMK 3 emang lebih strategis. Dekat dengan balai diklat, jadi kalo misalnya ada ketinggalan apa gitu kan enak pegawainya bolak balik ngambil. Tapi kalo di smansa? Jauhnya kan naujubile dari ujung ke ujung dunia, jadi lagu nanti. Gue termasuk angkatan yang usm di smansa *info gapenting* kalo di smansa keunggulannya adalah itu komplek sekolahan. Di sekitarnya ada banyaaaak banget sekolah, di samping smansa ada smp 12, di sampingnya lagi ada sd 001. Di seberangnya ada smp 1, di belakang smp 1 ada smp 2, di samping smp 1 ada kampus stt migas, kurang luas apa lokasi buat USM kalo di gunung pasir. Etapi yang baca emangnya paham? Kalo ga paham cari aja ya di google maps atau google earth. kayaknya peminat stan udah makin menurun intensitasnya kalo di balikpapan. Gatau ya, anak anak balikpapan kok senengnya sekolah di luar balikpapan, kurang kah jalan jalannya? Kurang kah main mainnya pas sma? *kayak gue engga engga nya aja*
Di antara kekurangan cahaya dan sinyal ini, gue berharap satu hal. Semua akan baik baik saja. Di kantor maupun kehidupan pribadi gue dan temen temen semua. Karena Allah akan selalu bersama kita, berharaplah kebaikan.
Edaaaaan,... kayak anak rohis banget ya kata kata gue barusan.
Sekian cerita kehidupan anak kantoran dari saya, kalo ada yang ngerasa tersinggung atau tersungging, ngomong aja. No offense dan ngga nolak kritik walaupun sepedas kripik maichi level 10.
Makasih, salam super!